
Pemerintah Kota Probolinggo terus memperkuat kapasitas aparatur dalam mewujudkan pembangunan yang adil, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Tahun Anggaran 2027 yang dilaksanakan di Puri Manggala Bhakti, Jumat
PROBOLINGGO — Pemerintah Kota Probolinggo terus
memperkuat kapasitas aparatur dalam mewujudkan pembangunan yang adil, inklusif,
dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Salah satu upaya tersebut
diwujudkan melalui Bimbingan Teknis
Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Tahun Anggaran 2027
yang dilaksanakan di Puri Manggala
Bhakti, Jumat (21/8).
Kegiatan
yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial,
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kota Probolinggo
tersebut diikuti oleh 145 peserta.
Peserta terdiri atas tiga orang dari setiap perangkat daerah, termasuk
kecamatan dan bagian di lingkungan Sekretariat Daerah, serta satu orang dari
setiap kelurahan. Peserta yang dihadirkan merupakan aparatur yang belum pernah
mengikuti bimbingan teknis PPRG.
Bimtek
PPRG menjadi bagian penting dalam mendorong agar perspektif gender tidak hanya
hadir sebagai kelengkapan administratif, tetapi benar-benar terintegrasi dalam
proses perencanaan pembangunan hingga penyusunan anggaran.
Melalui
PPRG, perangkat daerah didorong untuk terlebih dahulu mengidentifikasi kesenjangan gender, menganalisis kebutuhan perempuan dan
laki-laki, serta merumuskan intervensi yang tepat melalui program dan
kegiatan yang direncanakan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan
kebijakan dan penganggaran yang lebih tepat sasaran serta memberikan manfaat
pembangunan secara lebih merata.
Sekretaris
Dinsos PPPA Kota Probolinggo, Retno
Feby Hariyati, menjelaskan bahwa kegiatan ini diarahkan untuk
meningkatkan kapasitas aparatur dalam melakukan analisis gender, khususnya
melalui Gender Analysis Pathway (GAP)
dan Gender Action Budget (GAB).
“Setelah mengikuti kegiatan ini,
peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam penyusunan
program dan kegiatan, khususnya dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran
responsif gender untuk tahun anggaran 2027,” jelasnya.
PPRG Bukan Sekadar Administrasi
PPRG
tidak hanya berbicara mengenai bagaimana anggaran dibagi antara perempuan dan
laki-laki. Lebih dari itu, PPRG merupakan pendekatan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan, program, kegiatan, dan
anggaran mampu menjawab kebutuhan masyarakat berdasarkan kondisi dan
kesenjangan yang ada.
Dengan
perspektif gender yang terintegrasi sejak tahap perencanaan, pemerintah dapat melihat
apakah suatu program telah memberikan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat
yang setara bagi masyarakat.
Hal
tersebut sejalan dengan arahan Wali Kota Probolinggo yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Budiono
Wirawan. Ia menekankan bahwa pembangunan daerah harus mampu memberikan
manfaat nyata bagi seluruh masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki, tanpa
diskriminasi dalam akses maupun kontrol terhadap sumber daya pembangunan.
Menurutnya,
perspektif gender harus menjadi bagian penting dalam proses perencanaan
pembangunan dan tidak berhenti sebagai pelengkap dokumen administrasi. Para
perencana di setiap perangkat daerah juga didorong untuk tidak terpaku pada
pola atau templat lama, tetapi terus berinovasi agar penganggaran benar-benar
menyasar program prioritas yang inklusif dan memberikan dampak nyata bagi
masyarakat.
“Saya mengajak peserta bimtek untuk menyusun
dokumen perencanaan berkualitas yang mampu menjadi panduan nyata bagi kemajuan
Kota Probolinggo di masa depan. Ini sekaligus untuk menegaskan pentingnya
kesetaraan dalam setiap aspek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah,”
tuturnya.
Dari
Perencanaan Menuju Dampak Nyata
Penerapan
PPRG diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis. Pengetahuan yang
diperoleh dalam bimtek perlu diterjemahkan ke dalam dokumen perencanaan,
program, kegiatan, hingga penganggaran di masing-masing perangkat daerah dan
kelurahan.
Anggaran
yang responsif gender pada akhirnya diharapkan mampu menghasilkan program yang lebih tepat sasaran, efektif, inklusif, dan
memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Keberhasilan
penerapan PPRG juga membutuhkan komitmen dan sinergi seluruh perangkat daerah.
Setiap perangkat daerah memiliki peran dalam memastikan bahwa perencanaan
pembangunan tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga
mempertimbangkan siapa yang menerima manfaat, siapa yang masih menghadapi
kesenjangan, serta intervensi apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan pembangunan
yang lebih berkeadilan.
Bimtek
kali ini menghadirkan fasilitator
Pengarusutamaan Gender (PUG) dari Provinsi Jawa Timur, Sutiah, yang
menyampaikan materi “Pengarusutamaan
Gender (PUG) dalam Pembangunan di Daerah.”
Melalui
penguatan kapasitas aparatur tersebut, Dinsos
PPPA Kota Probolinggo terus mendorong terwujudnya perencanaan dan penganggaran
yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu
menjadi instrumen untuk memperkuat kesetaraan, inklusivitas, dan keberlanjutan
pembangunan di Kota Probolinggo.